Ngalor Ngidul Ngobrol Kesana Kemari Cari Strategi

 

Ngobrol bersama memang hal yang sangat mengasyikkan. Apalagi ada bahasan yang menarik untuk menjadi topik hangat nan panjang.

Selesai hujan pada bulan Juni, tepatnya pada beberapa minggu ini. Ada hal yang menjadi renungan, enak jika dibahas sembari ngopi. Terpantik ngobrol panjang terkait organisasi kaderisasi, ya PMII ini.

Roh organisasi PMII terletak pada kaderisasi. Semua bertugas untuk mengkader, baik mengkader anggotanya maupun mengkader teman sendiri. Malah yang paling krusial adalah mengkader diri. Membahas kaderisasi, mungkin kalo sambil ngopi bisa masuk dalam wilayah kaderisasi non formal ya? 

Roh dari organisasi ini terletak pada kaderisasi, yang menjadi inti rumusan, inti strategi, dsb. Kaderisasi formal wajib dilaksanakan bagi warga PMII mulai jenjang paling awal pengenalan yaitu MAPABA hingga jenjang-jenjang selanjutnya.

Untuk menunjang kaderisasi pada wilayah formal, maka informal dan non formal harus dilakukan untuk mengembangkan kader. Alur-alur diberikan untuk memenuhi asah, asih, asuh. Tanpa 3 instrument tersebut pasti tidak akan bergerak layaknya ngopi tanpa diskusi menjadi fana, tak bermakna.

Dalam pola asuh, orangtua yaitu pengurus, seharusnya bukan hanya menjadi event organizer saja, melaksanakan agenda-agenda dalam panitia, tetapi juga melaksanakan pola asuh kepada kader (anak-anak)nya. Berbagai cara dilakukan untuk mengasuh anak dalam mempersiapkan berenang pada luasnya keilmuan. Karena tanpa pola asuh yang tepat, maka anak akan kurus, gemuk, malah terjadi pola yang tidak merata. Padahal berbicara tentang pola makan, seharusnya sesuai porsinya, tidak untuk membeda bedakannya.

Agar tidak menimbulkan rasa iri dalam sebuah keluarga, disadari atau tidak keridakrataan pola asuh akan berdampak pada anak dalam menjadi orangtua selanjutnya.

Pola asih dalam kaderisasi, jika berlebihan akan memunculkan kemanjaan dan ketidakmandirian. Tetapi bukan berarti berhenti di situ saja, pola asih yang tepat akan menumbuhkan calon-calon orangtua yang kuat malah bisa melebihi orang tua lamanya.

Dua hal yang bisa menjadi kemungkinan jika pola asih berlebihan.

Yang pertama, jika anak tersebut terbiasa dimanjakan, paska orangtuanya selesai untuk mendidik maka dia akan terkejut dengan keadaan yang bisa dibilang patah dan kebingungan bagaimana caranya untuk menjadi orangtua.

Yang kedua, bisa juga mereka menjadi orang yang lebih kuat karena didewasakan oleh keadaan. Karena manja bisa membunuh, kata pelatih perang.

Jika pelatih memanjakan prajurit saat latihan, maka dia akan membunuh siswanya melalui cucuran darah dalam medan pertempuran. Maka pelatih prajurit tidak akan memanjakan siswa karena dia tau bagaimana sakitnya bercucuran darah dalam pertempuran.

Bisa juga terjadi karena sudah terlanjur dimanjakan. Mereka sadar dan mau survival dalam menghadapi kenyataan yang memang menyakitkan sih... Tapi, itu memang kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi nanti.

Untuk pola asah, sebagai orang tua biasanya mendidik anak agar mandiri melalui jalan pikirannya. Seperti orangtua yang sudah memberikan sebilah pisau jika sang anak salah menggunakan pisau tersebut, maka orangtua akan merasakan penyesalan mendalam. Tapi jika sang anak mampu menggunakan pisau untuk kemaslahatan sosial maka banggalah sang orangtua. Maka tentang asah, orangtua tetap memiliki kewajiban untuk mengontrol bagaimana anak menggunakan pisau tersebut. Tanpa ada kontrol yang baik dalam memandirikan anak, maka akan menjadi hal buruk dikemudian hari. 

Seperti seorang anak yang lulus SMK, bagaimana dia bisa mandiri untuk dirinya sebelum menjadi orangtua. Maka mencari pengalaman untuk bekerja, belajar menghadapi permasalahan bisa memandirikan dan mendewasakan sang anak. Orangtua pun bisa merasakan bangga dan bahagia kepada anak, bahwa anaknya bisa bertanggung jawab kepada dirinya.

Kaderisasi sama dengan hubungan anak dan orangtua. Banyak prosentase dari eksternal dan internal sebagai instrumen pengaruh progresifitas.

Entah kenapa asik aja jika membahas hal-hal tersebut sambil ngopi. Mungkin encer agaknya, tetapi ya belum tentu juga... Semua tergantung individu itu jalan berpikirnya bagaimana...

Bangun tersentak dari bumiku subur atau terkoyak dengan tengkurap dalam tempurung. Karena tidak ada cerita pemuda tanpa kontribusinya, karena Indonesia merdeka juga ada pemuda sebagai ujung tombaknya. Bung Karno juga berkata "Beri aku seribu orangtua, maka akan kucabut semeru sampai ke akarnya, tapi beri aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia." Kita ingin menjadi 10 pemuda yang diharapkan bung karno atau bagaimana?

 

#Penulis : Yon Alfi

#Editor : Sayid


 Let's get connected for our updates ! 

Instagram KOPRI Abu Nawas ✒️

 Instagram Rayon Abu Nawas ✒️

Youtube Rayon Abu Nawas ✒️

koprirayonabunawas@gmail.com ✒️

rayonabunawaskediri.official@gmail.com ✒️


Komentar

Postingan Populer