G30SPKI? Film Hoax Nggak Tuch
Sumber gambar:
https://money.kompas.com/read/2021/10/02/001100026/asal-usul-palu-arit-jadi-lambang-komunis
Dr. Asvi Warman Adam
merupakan salah seorang peneliti utama LIPI dan ahli sejarah Indonesia. Saat
ini Asvi bergelut dalam penulisan sejarah Orde Lama dan Orde Baru. Dia
mengatakan bahwa ada banyak kejanggalan di film yang dibesut oleh sutradara
Arifin C Noer yang beredar tahun 1984 & dibikin di tahun 1982.
Kejanggalan itu adalah ketika Soeharto sedang menelpon di Markas
Kostrad yang di situ ada peta, tetapi di dalam peta itu Timor Timur sudah masuk
Indonesia, padahal itu tahun 1965. Jangan-jangan pembuat film sudah tau bahwa
10 tahun kemudian Timor Timur menjadi bagian Indonesia.
Peta tersebut bersifat bersifat anakronis.
Aidit merokok gelisah galau, berkesan seperti film detektif yang
diidentikkan dengan rokok itu adalah jahat. Faktanya adalah Aidit bukan sosok
perokok berat.
Orang yang disebut Gerwani (Pemuda Rakyat). Menyayat wajah dengan
silet, mengancam, mencukil mata, dan sebagainya, padahal temuan dari tim dokter
yang melakukan visum terhadap jenazah para jenderal tidak menemukan sebagaimana
digambarkan dalam film. Tim dokter diketuai oleh Arif Budianto atau Lim Joe
Thay, ada juga Brigjrn Roebiono Kertopati, Kolonel Frans Pattiasina, dr. Sutomo
Tjokronegoro, dan lain-lain.
Hasil visum itu kemudian dicatat dan direkam dengan baik oleh
Benedict Richard O'Gorman Anderson. Dia adalah Indonesianis Besar dari Amerika
yang kemudian ditulis dalam sebuah jurnal “How Did The Generals Die?”
(Bagaimana Jenderal Meninggal). Jurnal ini membuat perang Soeharto yang
tentunya tidak sejalan dengan idenya yang dilontarkan pada film G30SPKI.
Film ini lebih banyak fiksi dibanding fakta dan tetap diakui turut
menentukan arah jarum sejarah karena saat itu dipaksakan.
Tidak ada penyiksaan sebagaimana digambarkan dalam film. Itu film
propaganda, bukan film sejarah.
Sutradara Arifin C Noer menyampaikan kekecawaannya kepada
sahabatnya (Eros Djarot) musisi sekaligus politisi. “Saya ini memang sutradara,
tetapi saat membuat film ini ada sutradara yang lebih berkuasa daripada saya
yang mengarahkan saya. Dia bukan ahli Art tetapi lebih ke politik.” Jadi wajar
jika Arifin C Noer pada akhirnya menyesal.
Film G30SPKI dibuat sesuai selera orde baru. Saat 1982-1984 adalah
ketika orde baru sedang kuat-kuatnya.
Kengerian film G30SPKI ditayangkan dan wajib ditonton tanpa pernah
diketahui fakta sebenarnya, dijamin yang awam akan terngiang-ngiang seumur
hidupnya, itulah jahatnya orde baru.
Genjer-Genjer bukan lah lagu yang digunakan PKI untuk berkampanye.
Lagu itu hadir sebagai kritik sosial yang lahir dari kegelisahan rakyat di masa
penjajahan Jepang. Musik dari lagu Genjer-Genjer diadaptasi dari lagu dolanan
berjudul Tong Alak Gentak.
Inilah film kebohongan yang ditunggu-tunggu oleh orang yang dungu.
.
#Diskusi Bedah Film
#30-09-2021


Komentar
Posting Komentar